Connect with us

Ekonomi

Cadangan Devisa Bisa ‘Gendut’ Lagi, Ini Dua Faktor Pengungkit

Ilustrasi - Mata Uang Dollar AS

INDONUSABIZ.com, JAKARTA — Tren peningkatan cadangan devisa/cadev diprediksi berlanjut menyusul prospek positif kinerja ekspor batu bara dan nikel serta menurunnya impor barang konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri.

Head of Economic Research Pefi ndo Fikri C. Permana meyakini, ke depan tren peningkatan cadev bakal berlanjut karena beberapa penyebab. Pertama, kinerja ekspor yang diprediksi akan segera tumbuh.

Jika pun turun, kata dia, tidak lebih rendah dibandingkan dengan penurunan impor.

Proyeksi ini mengacu harga minyak yang cukup rendah dan dibukanya lockdown di negara tujuan ekspor terutama China sehingga menambah permintaan komoditas khususnya batu bara dan nikel.

Sejalan dengan kondisi tersebut, impor barang konsumsi yang lebih rendah pada Ramadan dan Idulfitri tahun ini menyusul adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Selain itu sektor yang terkena Covid-19 sepertinya akan menahan impor barang modal mereka, khususnya untuk sektor konstruksi,” katanya.

Keduaspread yield surat utang negara (SUN) US treasury sangat besar, yakni di atas 700 bps sehingga memungkinkan investor global cenderung masuk ke pasar SUN di negara emerging market, salah satunya termasuk Indonesia.

Ketiga, suplai US treasury yang makin banyak seiring dengan peningkatan defisit fiskal Amerika Serikat (AS), sehingga menyebabkan kecenderungan penurunan nilai riil dolar AS.

“Selanjutnya kondisi ini akan mendorong investor global untuk melepas aset dolar AS mereka,” kata dia.

Keempat, rencana penerbitan global bond oleh pemerintah dan korporasi swasta cenderung akan menambah pasokan dolar AS di dalam negeri.

Adapun, lanjutnya, hal yang perlu diwaspadai adalah risiko meningkatnya ketegangan politik AS-China. Selain itu, pemerintah juga wajib menjaga ekspektasi pasar riil dan sektor keuangan nasional.

Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi cadev per April 2020 tercatat mencapai US$127,9 miliar, meningkat US$6,9 miliar dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

“Kenaikan cadev pada April 2020 disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang menerbitkan global bond beberapa waktu lalu,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko, Jumat (8/5). (mn/bc)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Ekonomi