Connect with us

Ekonomi

Morgan Stanley: Ekonomi Indonesia Bisa Cepat Bangkit dari Covid-19, Tapi..

Ilustrasi - Salah Satu Usaha IKM

INDONUSABIZ.com, JAKARTA – Indonesia diramalkan terkena dampak rendah terhadap resesi global akibat virus corona (Covid-19). Indonesia bisa cepat keluar dari krisis karena ketergentungan terhadap ekspor terbilang kecil dibandingkan dengan negara kawasan.

Hal itu terungkap dalam riset Morgan Stanley berjudul Which Economy Emerges First on the Path to Recovery? yang ditulis oleh Deyi Tan, Zac Su, Jin Choi dan Jonathan Cheung.

Dalam riset ini, Morgan Stanley menjabarkan bahwa negara mana saja yang akan kembali ke tingkat pertumbuhan produk domestic bruto (PDB) lebih cepat setelah setelah wacah corona. Morgan Stanley membaginya ke dalam 4 grup dari urutan yang paling cepat hingga lambat.

Grup pertama adalah China. Tempat di mana kasus Corona-19 pertama kali ditemukan ini memiliki struktur ekonomi yang berorientasi pada permintaan domestik.

“Pelonggaran kebijakan yang sedang berlangsung di China diperkirakan mempercepat pemulihan ekonomi paling awal di AxJ [negara Asia selain Jepang] pada kuartal III/2020,” demikian tulis laporan tersebut.

Grup kedua adalah Filipina, Indonesia, dan India. Grup ini diperkirakan akan terkena dampak resesi global yang lebih rendah. Hal ini berkat pertumbuhan struktural yang tinggi karena sektor domestik, negara ini dinilai dapat kembali ke level pra-Covid-19 setelah China.

Namun, menurut asumsi Morgan Stanley, masih ada risiko bagi negara-negara ini bahwa Covid-19 tidak memuncak pada kuartal II/2020. “Jika demikian [ada puncak Covid-19 pada kuartal II], grup kedua akan berada di belakang grup ketiga pada waktu pemulihan.”

Kemudian, grup ketiga Korea Selatan dan Taiwan. Dua negara ini memiliki ekonomi yang berorientasi ekspor sedang, dan akan terkena dampak resesi global.

Namun, karena respons institusional penanganan Covid-19 dalam negeri sangat efektif dan beberapa indikator permintaan domestik sudah mulai membaik bisa mempercepat pemulihan ekonomi Korea Selatan dan Taiwan.

kantor pusat Morgan Stanley

Logo perusahaan Morgan Stanley kantor di San Diego, California.

Grup keempat adalah Thailand, Malaysia, Hong Kong dan Singapura. Dalam grup keempat ini terdapat beberapa negara yang orientasinya pada ekspor tergolong paling besar di AxJ.

Beberapa negara juga menerapkan karantina total (lockdown), yang mengarah ke double hit pada ekspor dan permintaan domestik. Morgan Stanley melihat bahwa grup ini berpotensi akan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih, mungkin pada kuartal I/2021. “Risiko pertumbuhan cenderung menurun.”

Morgan Stanley sebelumnya telah mengidentifikasi tiga faktor penting yang bisa menentukan laju pemulihan AxJ. Pertama, keterbukaan setiap perekonomian terhadap resesi global.

Kedua, respons institusional dalam menangani situasi Covid-19 dan konsekuensi terhadap permintaan domestik. Ketiga, peluang dan kemauan untuk melakukan pelonggaran kebijakan.

Dampak dari resesi Covid-19 pada perekonomian bergantung pada sektor mana yang jadi fokus, antara lain sektor perdagangan, pariwisata, dan komoditas. Di negara AxJ, Hong Kong, Singapura, Malaysia, Taiwan, Thailand, dan Korea merupakan perekonomian yang lebih berorientasi pada ekspor.

Adapun Indonesia, India, Cina dan Filipina lebih berorientasi pada permintaan domestik.

Kemudian, seberapa baik kemampuan institusional negara dalam merespon situasi Covid-19 secara domestik sejauh ini? Morgan Stanley melihat bahwa negara dengan respons paling efektif adalah Taiwan, Hong Kong, Korea dan Cina.

Sementara itu, Singapura, Thailand, Malaysia, dan Filipina berada di kelompok menengah, sedangkan India dan Indonesia tertinggal.

Faktor berikutnya mengenai seberapa kuat perlawanan yang dimiliki negara AxJ apabila perlambatan berlanjut? AxJ masih memiliki peluang untuk mengambil kebijakan yang lebih baik, terutama di sisi fiskal.

“Karena menurut kami titik awal utang public dan defisit fiskal masih menguntungkan. Singapura, Hong Kong, Taiwan, dan Korea merupakan negara yang memiliki peluang kebijakan lebih besar, diikuti oleh Thailand, Filipina, Malaysia dan Cina. Sedangkan India dan Indonesia masih menghadapi banyak kendala terkait kebijakan.” tutupnya. (mn/bc)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Ekonomi